Monday, May 14, 2007

Anak Yang Bijak



Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera
membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar
penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk
menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah
pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,
"Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa."
"Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?"


tanya sang ayah. "Iya,Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat
kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab, "Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai
seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.

Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke
tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil
yang tak terhingga panjangnya.

Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan
mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi
taman mereka.

Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan
milik mereka seluas horison.

Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka
mempunyai tanah sejauh mata memandang.

Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita
tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.

Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka
menanam sendiri.

Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan
mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.

Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa.
Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku
tahu betapa miskinnya diri kita."


Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya
berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang
kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi
orang lain.

Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa
yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas
anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada
kuatir untuk meminta lebih lagi.

Tuesday, May 8, 2007

Si peminta-minta

Kotor...busuk, bau, kumuh, jijik...
inilah sedikit 'nama' untuk mereka yang sering mendatangi kita dengan menengadahkan tangannya yang keriput dan kotor...

Acuh tak acuh...itulah yang kita lakukan ketika mereka menundukkan wajahnya di hadapan kita...karna mereka tau, saat mereka melakukannya, kita tak akan mau menatap wajah penuh keringat yang membuat pipi dan kening mereka menjadi mengkilap...

Lalu... bila mereka 'keras kepala' mematung di depan kita... maka seluruh penyakit hati yang ada akan menumpuk sesak di dalam qalbu... risih, dongkol, mangkel, males, ah...terpaksa..! semua rasa itu membuat tangan kita terlalu sulit dan hampir utopis untuk merogoh dan mencari sekeping uang seratus perak saja!

Namun, ternyata kepahitan hidup tlah menjadi keseharian mereka...

Kita tak perlu khawatir, mereka tlah terbiasa untuk menangis. Bahkan, kelenjar air mata mereka tlah kering sejak hati kita menyatakan "tidak" pada mereka.

Sayang...kita tak sempat untuk sekedar memikirkan "Mereka makan pake apa?..." Lalu "adakah sepotong kardus yang mereka temui untuk melindungi badan mereka dari panas dan hujan?..."

"Apakah mereka punya anak...isteri...saudara...?" ...Ah, sudahlah....mereka tak ingin kita memikirkan mereka, karena mereka tlah menyadari sepenuhnya...bahwa kita takkan pernah memikirkan mereka...

Barangkali, hari ini mereka menambah satu garis keriput di dahi mereka...anak-anak mereka harus rela membiarkan air mata mengalir deras melewati pipnya yang mungil...


karna mereka tak berhasil menggenapkan uang recehan yang dikumpulkan, gara-gara saku celana kita terlalu sempit untuk dirogoh...uang kita terlalu bagus untuk diberikan pada mereka...ya, itulah kita....

Sekolah...? bayar uang pendaftaran pake apa? apalagi untuk beli pensil satu batang...! Maaf teman..., kantong celana mereka terlalu longgar untuk menampung uang receh limapuluhan. Seragam merah putih terlalu mewah untuk dibeli, dan pasti akan segera kotor karena di samping kanan kiri, depan belakang rumahnya adalah tumpukan sampah yang harus mereka pilah agar tak timbul polusi. Bukankah kita akan mengeluh bila kota ini bau karna sampah...? Sayangnya, kita juga akan merasa bau pada 'si pendaur ulang'...

Kita sebut mereka bau..., lalu kita sebut diri kita apa? padahal yang memenuhi kota ini dengan kaleng biskuit, keresek Pizza, bungkusan Dunkin Donnut, kaleng Sprite, dan lainnya adalah kita bukan...?

Merenung..? terlambat teman..., waktu terbuang percuma dengan hanya sekedar merenung... mereka tak butuh perenungan kita



Ya Allah...
siapa yang patut menanggung dosa ini ya Rabb...?

Monday, April 9, 2007

you are a winner or a looser ?

hidup ini adalah perjuangan...nggak ada yang pungkiri tentang hal ini. Kalaupun ada, berarti dia adalah seorang pemalas, seorang yang gagal, seorang yang kalah dalam hidup, mereka adalah seorang yang fatalis dan tak mau atau bahkan tak mampu untuk melangkah lebih jauh...

Lalu siapakah yang pantas mendapat gelar sebagai pemenang...? Apakah seorang pelari yang pendapatkan medali emas? Atau pejabat yang naik pangkat? Ternyata mereka bukanlah pemenang sejati, benarkah? simaklah tulisan di bawah ini yang saya kutip dari
swa.co.id.

Oleh : Paulus Bambang W.S.
Akhir tahun sering dipenuhi dengan perasaan waswas. Penilaian kinerja
segera dilaksanakan. Bagai palu godam, hasilnya hendak meluluhlantakkan
si pecundang. Jangankan bonus yang cukup untuk tamasya ke mancanegara,
untuk ongkos fiskalnya pun kadang tak mencukupi. Sebaliknya, bagi
pemenang, selain bonus besar, juga jaminan kenaikan gaji yang lumayan di tahun depan. Ini adalah siklus yang terus terjadi tahun demi tahun. Tak ada hal yang baru. Namun kenyataannya, gejolaknya masih dirasakan
dramatis bagi banyak orang.

Si pecundang akan memainkan trik tertentu untuk memperoleh penilaian
yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima. Beribu alasan dan
excuse terus dilontarkan. Industri sedang meradang, kompetisi
bertambah berat, pesaing meluncurkan produk baru, prinsipal tidak
mendukung, persaingan yang tak wajar, pesaing banting harga ? itu adalah
alasan basi yang terus dikumandangkan. Si pecundang selalu akan menunjuk
hidung orang lain sebagai biang keladi kekalahan. Lagu kata "andaikan"
terus dimainkan. Andaikan bagian produksi meluncurkan produknya tahun
ini; andaikan bagian keuangan menyetujui "down payment split"; andaikan
bagian support melakukan factory campaign. Tunjuk hidung, bukan
tunjuk dada. Kesalahan bukan ditudingkan pada dirinya sendiri.


Kalau pun 8 dari 10 target tidak tercapai, si pecundang masih bisa
menunjukkan bahwa dua target itu sebenarnya sangat besar implikasinya
dibandingkan dengan yang 8. Pecundang memang tak pernah lelah
mengibarkan kesuksesannya, walaupun bagai setitik nila di antara
sebelangga susu. Ia berusaha menjadi pemenang bagi dirinya sendiri.
Sebuah penyangkalan fakta yang teramat naif.

Lain halnya dengan si pemenang, apalagi yang mendapat kategori istimewa,
biasanya tak menduga mendapat predikat itu. Ia pikir biasa-biasa saja.
Ia hanya berpikir yang terbaik saat ini. Kalau sang bos melihat ia
memiliki prestasi prima, baginya itu sebuah pecutan untuk lari lebih
cepat lagi. Penilaian akhir tahun adalah sebuah jeda bagi si pemenang
untuk mengambil ancang-ancang etape berikutnya.

Piala akhir tahun yang ia peroleh, bonus dan kenaikan gaji atau promosi,
selalu beriringan dengan prestasi seluruh anggota kelompoknya. Pemenang
selalu dikelilingi oleh para juara. Ia tidak pemain tunggal yang berdiri
sendiri di puncak. Melainkan, ia adalah pemain kelompok yang berada di
belakang sebuah kelompok juara yang saling mendukung. Pemenang tidak
pernah merasa kesepian seperti pecundang. Pemenang selalu berbagi tawa
dengan kelompoknya. Pemenang memiliki pendukung pemenang juga, yang pada
saatnya bakal menggantikannya sebagai pemenang baru.

Pemenang selalu merujuk pada rekan sekerja untuk menunjukkan pemenang
sebenarnya. Tidak menunjuk pada dirinya sendiri. Atau meminjam teori
kodok yang perlu menekan ke bawah supaya ia dapat terangkat tinggi.
Hanya soal waktu, pemenang macam beginilah yang dapat bertahan.
Sayangnya, banyak yang mengabaikan hukum alam ini.

Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya kliping 8 tahun silam,
ditulis oleh sahabat saya, Debora. Ia berujar tentang pemenang yang
menang justru dalam sebuah kekalahan. Bukan menang tanpo ngasorake,
melainkan menang tanpa sebuah kemenangan. Pemenang yang sejati bukan
ditentukan oleh sebuah piala, atau rekor, atau medali fisik, melainkan
ditentukan pula oleh sikapnya sebagai pemenang tatkala medali dan piala
itu justru ia berikan kepada orang lain. Ia bisa dan mampu meraihnya,
tetapi ia sadar bahwa medali ini sebaiknya diserahkan kepada orang lain
agar mereka menikmati kemenangan. Ia sendiri larut dalam kenikmatan
kemenangan orang lain.

Begini ceritanya. Kim Peek, seorang anak yang menderita kerusakan otak,
ikut dalam lomba lari 50 meter di olimpiade khusus kaum cacat tahun
1968. Sebagai atlet yang mewakili negaranya, Kim berharap membawa pulang
medali karena ia memiliki rekor lari dengan kursi roda yang fantastis.
Ia menanti hari pertandingan dengan antusias persis seperti atlet normal
lainnya.

Saat pertandingan tiba, Kim dan kedua peserta lain memasuki arena
pertandingan yang kala itu sudah di babak final. Kim bergerak cepat
mendahului kedua lawannya ketika pistol berbunyi tanda perlombaan
dimulai. Dia berada 20 meter di depan dan 10 meter dari garis akhir pada
saat ia mendengar bunyi benda yang tertubruk di belakangnya. Ia
memperlambat laju kursi rodanya. Ia melihat ke belakang.

Ia melihat seorang lawannya, anak perempuan, terbentur dinding. Kursi
rodanya berbalik arah dan ia kesulitan untuk mengembalikan ke arah
semula. Kim melihat, peserta lainnya ? anak laki-laki ? berusaha
mendorong kursi roda si anak perempuan untuk kembali pada arah yang tepat.

Kim berhenti. Lalu ia pun berbalik dan menolong si anak perempuan
sehingga kembali seperti semula. Bukan hanya itu. Dengan segenap
kekuatannya, ia mendorong kursi roda si anak perempuan sampai ke garis
akhir. Anak laki-laki yang sempat berbalik arah tadi memenangi
perlombaan itu; sementara si anak perempuan meraih juara kedua;
sedangkan Kim kalah.

Benarkah Kim kalah? Para penonton berdiri memberi tepuk tangan meriah
untuk Kim. Mereka tidak berpikir bahwa Kim kalah. Kim tersenyum, ia
merangkul si anak perempuan dan si anak laki-laki yang menjadi lawannya.
Kim memang kehilangan medali emas, tetapi ia puas.

Kim adalah pemenang sejati. Sejatinya ia tidak merasa kehilangan medali.
Ia tidak merasa kalah. Ia adalah sosok pemenang yang dibutuhkan bangsa
ini untuk maju. Memberi jalan agar yang lain berada di karpet merah
kemenangan. Ia tersenyum bangga, bahwa ia telah melahirkan jawara baru.
Ia adalah jawara sejati. Kapan kita bisa seperti Kim?

Nah...sahabat, sudahkah kita menjadi juara sejati? ^_______^

Saturday, April 7, 2007

Apakah anda bisa menjaga rahasia...???


Ketika masih menjabat sebagai Menteri Angkatan Laut Amreika Serikat,
Knox pernah ditanya oleh seorang sahabat lamanya, "Apa yang dilakukan
oleh kapal induk "XY", di kawasan laut Atlantik?"

Sebenarnya sang sahabat sama sekali tidak bermaksud memata-matai atau
mencari bocoran informasi dari Knox. Pertanyaan itu terlontar begitu
saja.

Tapi Knox mendekatkan kepalanya, dan berbisik penuh hati-hati seolah
ingin mengatakan suatu rahasia yang sangat penting. Ia bertanya pada
sahabatnya,"Apakah kau bisa memegang rahasia?"

Sahabatnya sedikit terperanjat. Dengan penuh nafsu ia menjawab, "Oh,
tentu, tentu! Aku bisa memegang rahasia itu."

Dengan santai Knox menjauh sembari menjawab, "Yah, begitu juga aku!"

Smiley! Anda takkan bisa memegang rahasia, meski anda menyatakannya pada
seseorang yang bisa memegang rahasia. Rahasia adalah rahasia