Showing posts with label spirit of life. Show all posts
Showing posts with label spirit of life. Show all posts

Thursday, July 31, 2008

my wedding

Assalamu'alaikum wr. wb

mengundang seluruh sahabat dan kerabat tercinta dalam pernikahan kami,
Insya Allah diselenggarakan pada :

Aqad nikah :
Sabtu, 30 Agustus 2008
Pkl.13.00 WIB s.d. selesai
di Jl. Primer No. 1063 Cibadak Kab. Sukabumi


Resepsi :

Ahad, 31 Agustus 2008
Pkl.09.00 - 17.00 WIB s.d. selesai
di Jl. Primer No. 1063 Cibadak Kab. Sukabumi


Tiada kebahagiaan yang bisa terucap, selain sahabat-sahabat semua
turut menyaksikan terikatnya cinta tulus kami berdua...

yang berbahagia :
Novita Safitri & Bayu Prasetyo Aji

Keluarga besar Bpk. Ayip Hidayat dan (alm) Ibu Khotimah
Keliuarga besar Bpk. Bambang Hernowo Hadi dan Ibu Darmini


~ Novita & Bayu ~

Saturday, March 15, 2008

Plin-plan atau Fleksibel...?


(tulisan kedua dari dua tulisan)

Dalam tulisan sebelumnya telah diulas bagaimana karakteristik plin-plan dan fleksibel. Dalam tulisan yang kedua ini akan dibahas penyebab plin-plan dan sumber-sumber fleksibilitas. Secara sederhana, ternyata Plin-plan itu dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
  • Takut gagal yang terlalu berlebihan karena tidak PD
  • Pengaruh orang lain yang terlalu besar
  • Cepat frustasi atau mudah menyerah, tidak sabaran
  • Arogansi, Kesombongan, atau hal lain yang sepadan dengan itu. Dengan sifat ini, seseorang akan merasa paling benar sendiri dan sulit untuk menerima pendapat orang lain. Hal ini akan terbuka kemungkinan banyak orang yang akan mengkritik, sehingga kita mudah tersinggung dan akhirnya akan mempengaruhi keputusan kita.
  • Terlalu percaya pada hal-hal mistik atau irasional. Biasanya dalam keadaan kepepet, dukun bertindak, atau tahayul seringkali menjadi referensi arah hidup kita.
  • Gamang, ragu, akibat pikiran kosong atau tidak tenang.
  • Terlalu sering curhat dan mendapatkan masukan dari sumber2 yang tidak jelas.
  • kurang siap menghadapi resiko hidup, kurang siap dalam menghadapi konsekuensi tindakan, atau kebiasaan lari dari tanggungjawab.
  • pengetahuan dan pengalaman yang masih dangkal atau yang masih baru juga bisa menimbulkan keputusan yang plin-plan.
lalu bagaimana cara untuk menumbuhkan fleksibilitas dalam diri kita? Berikut ulasannya (e-psikologi.com)

Dalam teori kompetensi, fleksibilitas ini diartikan sebagai kemampuan dalam beradaptasi atau kemampuan untuk bisa bekerja secara efektif di berbagai kondisi atau situasi (lihat: Competence at Work, 1993). Istilah lain yang bisa menggambarkan kemampuan ini, antara lain adalah:

  • Adaptibility (kemampuan beradaptasi)
  • Ability to change (kemampuan untuk mengubah diri)
  • Perceptual objectively (Kemampuan memunculkan persepsi objektif)
  • Staying objective (kemampuan bersabar secara objektif)
  • Resilience (kemampuan untuk menjadi orang yang tangguh)
Di antara tanda-tanda orang yang fleksibel ini adalah: kemampuan memahami dan menghargai berbagai perspektif atau pendapat tentang sebuah isu. Tandanya lagi adalah kemampuan menyesuaikan pendekatan (an approach) terhadap situasi yang sedang berubah atau kemampuan untuk bisa menerima (secara positif) perubahan yang sedang terjadi, entah itu perubahan keadaan eksternal atau perubahan organisasi.

hmmm....seperitinya tidak sulit untuk kita coba... :)

Manusia akan dihadapi pada berbagai kondisi yang berbeda-beda, sehingga hal ini memunculkan karakter atau watak pada diri seseorang. Maka dari itu, untuk membentuk satu "karakter baru" dalam diri kita dibutuhkan pembelajaran secara kontinu yang konsisten. Dalam tulisan Ubaydillah (e-psikologi.com), dijelaskan acuan atau indeks skala kemampuan atau skill seseorang dalam menghadapi perubahan lingkungan, diantaranya :

Skala minus satu (-1): kita mempertahankan kebenaran-sendiri atau mempertahankan egoisme hawa nafsu, menganggap orang lain itu salah, masa bodoh dengan orang lain, dan lebih baik memilih bertengkar dengan orang lain

Skala nol (0): Kita hanya mengikuti prosedur yang ada saja supaya bisa selamat, sekedar menjalankan apa yang diperintahkan dan menghindari apa yang dilarang. Asal selamat saja.

Skala satu (1): Kita sudah belajar untuk melihat situasai yang ada secara objektif, kita punya pendapat yang kita akui benar tetapi juga tetap mengakui pendapat orang lain yang mungkin juga benar.

Skala dua (2): Kita sudah belajar menerapkan / menjalankan aturan atau prosedur secara fleksibel, berdasarkan keadaan kita secara pribadi dan sosial

Skala tiga (3): Kita sudah belajar menyesuaikan taktik dan respon kita terhadap perubahan keadaan atau perubahan orang lain secara fleksibel. Kita mengubah prilaku berdasarkan perubahan keadaan.

Skala empat (4): Kita sudah belajar mengubah strategi, goal (tujuan kecil), atau proyek untuk bisa sesuai dengan situasi yang sedang berubah, namun tetap fokus pada tujuan utama (tujuan besar) kita.

Skala lima (5): Kita sudah belajar menyesuaikan jurus-jurus organisasi yang benar-benar klop dengan perubahan keadaan eksternal

Skala enam (6): Kita sudah belajar mengadaptasikan strategi atau rencana jangka panjang terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.

Karena itu, Ubaydillah menekankan akan pentingnya pembelajaran dalam diri kita. Pembelajaran di sini adalah changing behavior, changing habit, and changing culture, berdasarkan praktek, pengalaman dan pengatahuan.


Berdasarkan penjelasan di atas, maka dalam melakukan proses pembelajaran itu harus kita perhatikan hal-hal berikut ini (e-psikologi.com) :

Pertama, menghilangkan egoisme hawa nafsu, menghilangkan perasaan yang sudah merasa paling benar sendiri, atau menutup pintu pikiran dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita miliki. Menurut pesan dari ajaran Spiritual Jawa (Javanese Spiritual Doctrine), yang terpenting untuk seorang pembelajar adalah menyimpan pengetahuan dan pengalaman lamanya untuk sementara waktu supaya bisa membuka pintu pengetahaun dan pengalaman baru.

Kedua, melatih kemampuan dalam mengambil pelajaran penting-spesifik dari apa yang kita baca (buku, majalah, laporan), apa yang kita lihat (orang lain) dan apa yang kita observasi (perubahan situasi). Pelajaran di sini artinya adalah apa yng kita hayati dan apa yang kita simpulkan dari apa yang kita lihat. Kemampuan ini sangat penting untuk meningkatkan fleksibilitas. Kemampuan ini bisa kita asah antara lain dengan: bertanya, bercakap-cakap dengan orang, bertukar pendapat, berdialog, membaca, dan lain-lain. Intinya, kita bisa meningkatkan kemampuan ini dengan membaca, bertanya, mendengarkan, dan (yang paling penting) menerapkan.

Ketiga, melatih kemampuan dalam merumuskan sebuah tujuan besar (visi, misalnya) atau rencana besar (long term planning), atau gagasan besar, lalu kita ikuti dengan mengembangkan kemampuan untuk menemukan cara atau taktik yang sebanyak mungkin. Jadi, tentukan satu sasaran yang jelas namun dekati dari berbagai cara yang paling mungkin. Bahkan bila sasaran itu perlu diubah, ubahlah secara pelan setelah mempraktekkan berbagai cara (be creative).

Ok deh, semoga dua tulisan ini bisa membawa kehidupan kita menjadi lebih baik...Semoga bermanfaat... :)

Plin-plan atau Fleksibel...?


(tulisan pertama dari dua tulisan)

Dalam menata kehidupan ini, suatu hal yang pasti akan kita hadapi adalah berbagai persoalan akan menjadi batu kerikil dan tebing terjal yang menghadang. Bahkan, di perjalanan kita juga akan menemukan persimpangan jalan yang mengharuskan kita untuk memilih salah satu dari jalan itu. Keputusan diantara dua atau lebih yang akan menentukan masa depan kita. Apakah jalan berliku nan curam yang akan kita temui...? atau bahkan jalan buntu? atau bahkan jurang yang menjulang tinggi...? Semuanya tergantung pada pilihan dan pertimbangan untuk memilih diantara banyak pilihan.

Terkadang, di saat seorang manusia telah menentukan sebuah pilihan, akan timbul sebuah keraguan dalam dirinya yang akan mengganggu pikiran sehingga manusia tergoda untuk menarik keputusan dan kembali ke persimpangan jalan untuk memikirkan kembali jalan mana yang akan dia tempuh, atau memilih jalan yang lain yang tidak ia pilih sebelumnya. Pernahkah anda mengalami hal semacam ini...? Apabila ya, termasuk dalam kategori apakah anda? plin-plankah, atau fleksibelkah...?

Menurut salah satu artikel yang ditulis oleh Ubaydillah, AN dalam sebuah situs www.e-psikologi.com disebutkan antara lain :

Secara teori, plin-plan itu sering diartikan sebagai indecisiveness. Ini adalah ketidakmampuan kita dalam menentukan keputusan atau bersikap dengan alasan-alasan yang sangat tidak kuat. Orang plin-plan itu adalah orang yang gampang melakukan bongkar-pasang rencana, keputusan atau penyikapan. Plin-plan ini dipahami sebagai lawan dari kepercayaan-diri (self-confidence) atau pede. Dalam teori kompetensi, ada sejumlah istilah yang pengertianya kira-kira sama dengan kepercayaan-diri ini. Beberapa istilah itu antara lain adalah:
  • Decisiveness
  • Ego strength
  • Independence
  • Strong-self concept
  • Willing to take responsibility
Secara lebih terperinci, beliau menjelaskannya sebagai berikut :
  • Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya keputusan hidup yang mantap, tidak plin-plan, tidak ragu-ragu, tidak minder, dan seterusnya.
  • Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya power personal yang kuat, kharismatik, disegani, dan semisalnya.
  • Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya relatif lebih terbebas dari berbagai rasa terancam atau rasa tertekan, baik itu oleh keadaan atau oleh lingkungan.
  • Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya jati diri yang jauh lebih kuat dan jauh lebih jelas.
  • Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya komitmen yang kuat untuk maju atau punya kesadaran tanggung jawab yang lebih tinggi
Nah, termasuk yang manakah kita???
Dari tulisan di atas dapat kita simpulkan sementara bahwa, orang yang plin-plan adalah orang yang memiliki rasa percaya diri yang kurang, belum bagus, atau perlu ditingkatkan lagi. Sifat ini, masih menurut Ubaydillah, bisa karena faktor bawaan sejak kecil yang tidak diperbaiki, atau memang kondisi lingkungan yang memaksa seseorang untuk bertindak plin-plan, dalam artian perlu bongkar pasang rencana karena kondisi yang mendesak.

Lalu, apa bedanya dengan fleksibel? Menurut Musashi dalam "The Book of Five Ring" yang dikutip oleh Ubaydillah mengatakan : fleksibel itu digambarkan seperti watak air. Musashi menjelaskannya dengan istilah ordered flexibility. Fleksibel di sini diartikan sebagai kapasitas untuk tetap menjadi diri sendiri dalam keadaan tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan atau orang lain.



Dengan kata lain, dia sanggup menjadi orang yang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa merubah tujuan yang telah ditetapkan di awal. Sebagaimana air yang mengalir dari pegunungan, ia akan selalu menyesuaikan kondisi lingkungan yang dialirinya tanpa mengubah tujuan semula, yaitu laut.

Bisa dikatakan bahwa keplin-planan adalah kelemahan, sementara fleksibilitas adalah kekuatan. Orang yang plin-plan adalah orang yang lemah karena tidak punya pendirian. Sementara orang yang fleksibel adalah orang yang kuat dalam pendiriannya, tapi tidak kaku. Ubaydillah mengutip pendapat Antony Robin bahwa mereka mempertahankan pendiriannya sekuat batu karang, tetapi mengaplikasikannya di lapangan seperti orang yang berenang. Orang yang berenang adalah orang yang fleksibel karena bisa menyesuaikan dirinya dengan ombak.

Kenapa bisa timbul plin-plan? dan bagaimana menjadi seorang yang fleksibel?....

Monday, August 27, 2007

kita terlalu sombong


udah baca republika hari ini..? di bagian depan halaman koran itu ada satu artikel yang sempet bikin sy malu, judul artikel itu "Bocah 13 tahun Menantang Hidup". Mulanya sy pikir isinya adalah seorang bocah yang mau bunuh diri...eeh ternyata setelah dibaca, dia adalah anak yang memiliki tingkat ketabahan dan perjuangan yang luar biasa. Ia adalah Ma'un, anak asal Dusun Becok, Kecamatan Merakurak, Tuban, Jawa Timur. Kalo kita baca, betapa beratnya ujian hidup yang harus ia lewati. Tinggal berdua dengan "simbok" (ibu angkatnya) yang telah mengasuhnya sejak ia lahir yang kini tak berdaya karna sakit-sakitan, dan bocah ini menjadi tumpuan hidup simbok.

Sepulang sekolah, dia harus rela meninggalkan waktu bermainnya untuk kemudian "menantang hidup" dengan bekerja sebagai pekerja di galian kapur hingga senja. Uang yang ia dapatkanpun tak sebanding dengan resiko hidup yang harus dia hadapi. Dalam dua pekan, ia hanya mampu membuat 150 bata kumbung dan dijualnya kepada bandar seharga Rp 200/bata. Dengan kata lain, uang yang ia dapatkan tidak lebih dari Rp 30 ribu saja.


''Kasihan simbok (ibu), dia sudah membesarkanku. Aku khawatir simbok sakit, nanti aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak memilih risiko tapi ini adalah hidup yang harus aku jalani,'' katanya.

Saudaraku, bagaimana dengan kita? Kita duduk di kursi empuk, tinggal di rumah yang nyaman, dan kerja di ruangan ber-AC...Itupun seringkali kita tidak merasa nyaman dan kurang bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepada kita.

bagaimana dengan pemerintah?



Kayaknya sekarang mereka lagi terkantuk-kantuk di kursi empuk dengan perut kenyang karena telah sarapan dengan hidangan mewah...Mikirin Ma'un? mimpi kali yeey...

Thursday, August 23, 2007

Apakah Oksigen Masih Cukup?


Apakah Oksigen Masih Cukup? Ahli hikmah mengatakan bahwa perjalanan
hidup manusia, tidak ubahnya bagaikan seorang penyelam mutiara. Seorang
penyelam mutiara dalam melaksanakan tugasnya selalu berbekal tabung
oksigen yang dibawa di punggungnya. Ketika ia hendak terjun menyelam,
niatnya tiada lain hanya ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya.

Tetapi begitu terjun ke laut, ketika saat itu pula ia mulai lupa pada
tiram yang harus dicarinya. Pemandangan di dalam laut yang sangat
mempesona dengan bunga karang dan ikan hias yang berwarna warni sangat indah
membuatnya silau. Ia pun terlena bercanda ria mengejar ikan-ikan yang
berwarna warni dan melupakan tugas semula mencari tiram mutiara yang
berada jauh di dasar laut. Hingga pada saat akhirnya, dia pun sadar bahwa
oksigen di punggungnya tinggal sedikit lagi.


Maka, timbulah rasa takutnya yang tidak terbayangkan olehnya bagaimana
kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke permukaan tanpa membawa
tiram mutiara yang diharapkan. Dengan tergesa-gesa karena oksigen dalam
tabung hampir habis, ia berusaha mengambil tiram yang ada
sebanyak-banyaknya. Namun sayang, fisiknya kelelahan setelah bercanda ria dengan ikan
hias yang indah-indah itu tidak menunjang lagi, sehingga terjadilah
"nafsu besar tenaga kurang".

Akhirnya isi tabung oksigen benar-benar habis, sehingga meskipun tiram
mutiara yang dibawanya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke
permukaan. Malangnya lagi karena terburu-buru, dia tidak sempat
mengikat kantongnya dengan baik, sehingga begitu tersenggol ikan yang
berseliweran disampingnya, tiram mutiara yang sudah didapatnya dengan susah
payah itu bertumpah keluar.


Di permukaan majikannya sudah menunggu. Ketika dilihatnya isi kantong
si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan,
maka ia pun mencaci maki penyelam itu dan saat itu juga langsung
dipecatnya tanpa diberi pesangon sedikit pun.

Dengan penuh penyesalan si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang
untuk menyelam kembali, namun majikannya menolak.

Yang ingin disampaikan dalam kisah ini, yaitu perumpamaan-perumpamaan
yang begitu mirip dengan perjalanan hidup manusia di dunia. Tabung
oksigen melambangkan umur manusia, tiram mutiara mengibaratkan pahala, dan
tiram mutiara yang tumpah mengumpamakan pahala yang hilang karena riya,
sedangkan keindahan yang ada dalam lautan melambangkan godaan-godaan
akan kenikmatan duniawi.***

(Sumber : Tabloid MQ EDISI 3/TH.I/JULI 2001)

Monday, April 9, 2007

you are a winner or a looser ?

hidup ini adalah perjuangan...nggak ada yang pungkiri tentang hal ini. Kalaupun ada, berarti dia adalah seorang pemalas, seorang yang gagal, seorang yang kalah dalam hidup, mereka adalah seorang yang fatalis dan tak mau atau bahkan tak mampu untuk melangkah lebih jauh...

Lalu siapakah yang pantas mendapat gelar sebagai pemenang...? Apakah seorang pelari yang pendapatkan medali emas? Atau pejabat yang naik pangkat? Ternyata mereka bukanlah pemenang sejati, benarkah? simaklah tulisan di bawah ini yang saya kutip dari
swa.co.id.

Oleh : Paulus Bambang W.S.
Akhir tahun sering dipenuhi dengan perasaan waswas. Penilaian kinerja
segera dilaksanakan. Bagai palu godam, hasilnya hendak meluluhlantakkan
si pecundang. Jangankan bonus yang cukup untuk tamasya ke mancanegara,
untuk ongkos fiskalnya pun kadang tak mencukupi. Sebaliknya, bagi
pemenang, selain bonus besar, juga jaminan kenaikan gaji yang lumayan di tahun depan. Ini adalah siklus yang terus terjadi tahun demi tahun. Tak ada hal yang baru. Namun kenyataannya, gejolaknya masih dirasakan
dramatis bagi banyak orang.

Si pecundang akan memainkan trik tertentu untuk memperoleh penilaian
yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima. Beribu alasan dan
excuse terus dilontarkan. Industri sedang meradang, kompetisi
bertambah berat, pesaing meluncurkan produk baru, prinsipal tidak
mendukung, persaingan yang tak wajar, pesaing banting harga ? itu adalah
alasan basi yang terus dikumandangkan. Si pecundang selalu akan menunjuk
hidung orang lain sebagai biang keladi kekalahan. Lagu kata "andaikan"
terus dimainkan. Andaikan bagian produksi meluncurkan produknya tahun
ini; andaikan bagian keuangan menyetujui "down payment split"; andaikan
bagian support melakukan factory campaign. Tunjuk hidung, bukan
tunjuk dada. Kesalahan bukan ditudingkan pada dirinya sendiri.


Kalau pun 8 dari 10 target tidak tercapai, si pecundang masih bisa
menunjukkan bahwa dua target itu sebenarnya sangat besar implikasinya
dibandingkan dengan yang 8. Pecundang memang tak pernah lelah
mengibarkan kesuksesannya, walaupun bagai setitik nila di antara
sebelangga susu. Ia berusaha menjadi pemenang bagi dirinya sendiri.
Sebuah penyangkalan fakta yang teramat naif.

Lain halnya dengan si pemenang, apalagi yang mendapat kategori istimewa,
biasanya tak menduga mendapat predikat itu. Ia pikir biasa-biasa saja.
Ia hanya berpikir yang terbaik saat ini. Kalau sang bos melihat ia
memiliki prestasi prima, baginya itu sebuah pecutan untuk lari lebih
cepat lagi. Penilaian akhir tahun adalah sebuah jeda bagi si pemenang
untuk mengambil ancang-ancang etape berikutnya.

Piala akhir tahun yang ia peroleh, bonus dan kenaikan gaji atau promosi,
selalu beriringan dengan prestasi seluruh anggota kelompoknya. Pemenang
selalu dikelilingi oleh para juara. Ia tidak pemain tunggal yang berdiri
sendiri di puncak. Melainkan, ia adalah pemain kelompok yang berada di
belakang sebuah kelompok juara yang saling mendukung. Pemenang tidak
pernah merasa kesepian seperti pecundang. Pemenang selalu berbagi tawa
dengan kelompoknya. Pemenang memiliki pendukung pemenang juga, yang pada
saatnya bakal menggantikannya sebagai pemenang baru.

Pemenang selalu merujuk pada rekan sekerja untuk menunjukkan pemenang
sebenarnya. Tidak menunjuk pada dirinya sendiri. Atau meminjam teori
kodok yang perlu menekan ke bawah supaya ia dapat terangkat tinggi.
Hanya soal waktu, pemenang macam beginilah yang dapat bertahan.
Sayangnya, banyak yang mengabaikan hukum alam ini.

Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya kliping 8 tahun silam,
ditulis oleh sahabat saya, Debora. Ia berujar tentang pemenang yang
menang justru dalam sebuah kekalahan. Bukan menang tanpo ngasorake,
melainkan menang tanpa sebuah kemenangan. Pemenang yang sejati bukan
ditentukan oleh sebuah piala, atau rekor, atau medali fisik, melainkan
ditentukan pula oleh sikapnya sebagai pemenang tatkala medali dan piala
itu justru ia berikan kepada orang lain. Ia bisa dan mampu meraihnya,
tetapi ia sadar bahwa medali ini sebaiknya diserahkan kepada orang lain
agar mereka menikmati kemenangan. Ia sendiri larut dalam kenikmatan
kemenangan orang lain.

Begini ceritanya. Kim Peek, seorang anak yang menderita kerusakan otak,
ikut dalam lomba lari 50 meter di olimpiade khusus kaum cacat tahun
1968. Sebagai atlet yang mewakili negaranya, Kim berharap membawa pulang
medali karena ia memiliki rekor lari dengan kursi roda yang fantastis.
Ia menanti hari pertandingan dengan antusias persis seperti atlet normal
lainnya.

Saat pertandingan tiba, Kim dan kedua peserta lain memasuki arena
pertandingan yang kala itu sudah di babak final. Kim bergerak cepat
mendahului kedua lawannya ketika pistol berbunyi tanda perlombaan
dimulai. Dia berada 20 meter di depan dan 10 meter dari garis akhir pada
saat ia mendengar bunyi benda yang tertubruk di belakangnya. Ia
memperlambat laju kursi rodanya. Ia melihat ke belakang.

Ia melihat seorang lawannya, anak perempuan, terbentur dinding. Kursi
rodanya berbalik arah dan ia kesulitan untuk mengembalikan ke arah
semula. Kim melihat, peserta lainnya ? anak laki-laki ? berusaha
mendorong kursi roda si anak perempuan untuk kembali pada arah yang tepat.

Kim berhenti. Lalu ia pun berbalik dan menolong si anak perempuan
sehingga kembali seperti semula. Bukan hanya itu. Dengan segenap
kekuatannya, ia mendorong kursi roda si anak perempuan sampai ke garis
akhir. Anak laki-laki yang sempat berbalik arah tadi memenangi
perlombaan itu; sementara si anak perempuan meraih juara kedua;
sedangkan Kim kalah.

Benarkah Kim kalah? Para penonton berdiri memberi tepuk tangan meriah
untuk Kim. Mereka tidak berpikir bahwa Kim kalah. Kim tersenyum, ia
merangkul si anak perempuan dan si anak laki-laki yang menjadi lawannya.
Kim memang kehilangan medali emas, tetapi ia puas.

Kim adalah pemenang sejati. Sejatinya ia tidak merasa kehilangan medali.
Ia tidak merasa kalah. Ia adalah sosok pemenang yang dibutuhkan bangsa
ini untuk maju. Memberi jalan agar yang lain berada di karpet merah
kemenangan. Ia tersenyum bangga, bahwa ia telah melahirkan jawara baru.
Ia adalah jawara sejati. Kapan kita bisa seperti Kim?

Nah...sahabat, sudahkah kita menjadi juara sejati? ^_______^