Showing posts with label gagasan. Show all posts
Showing posts with label gagasan. Show all posts

Friday, March 7, 2008

Audisi "Super Hero of The World"


Kita tentu udah menyaksikan dan bahkan merasakan sendiri, bahwa kondisi ummat Islam kini sedang mengalami keterpurukan di segala bidang. Nggak ada sejarahnya di negeri ini harga BBM menurun, apalagi listrik, terutama sembako. Kita tentu masih merasakan dibekeli oleh ortu uang Rp. 500 saat SD dulu, dimana dengan jumlah itu kita bisa beli berbagai macam jajanan di sekolah. Sekarang...? hmmm, sepertinya udah naek 10x lipat. Anak umur TK aja barangkali udah pegang uang jajan sebanyak Rp. 5000,-... Belum lagi kalo kita bicara kemiskinan, sesungguhnya ummat Islam tengah mengalami 'pemiskinan'. Ummat yang mestinya merasakan nikmatnya BBM gratis, pendidikan gratis, biaya kesehatan gratis, (paling enggak murah), dsb. Nyatanya itu semua hanya isapan jempol saja. Saking parahnya, masyarakat pada umumnya bahkan mengatakan utopis BBM murah bahkan gratis, apalagi biaya pendidikan. Apa bener BBM nggak mugkin gratis? (Insya Allah kita bahas di edisi selanjutnya).


Melihat kondisi ummat yang begitu terpuruk, tentu kita akan selalu mengharap dan mengharap. Memohon dan memohon, berdoa dan berdoa agar di tengah-tengah kita diutus seorang "Ratu Adil" yang akan menjadi "Super Hero" buat rakyat Indonesia. Kita akan selalu berharap akan kedatangan "Imam Mahdi" yang akan menyelesaikan semua problem yang menimpa ummat Islam. Kita juga selalu menunggu akan datangnya satu keajaiban yang dalam sekejap bisa membuat kita makmur sentosa. (hehehehe...!!!)


Namun, mengapa permohonan kita selama ini tidak kunjung terwujud? Apakah do'a kita selama ini "tidak didengar" oleh Allah SWT...? Apakah kurang banyak orang sholeh di negeri ini untuk bermunajat kepadaNya? Atau sudah terlalu banyak orang-orang bejat di negeri ini sehingga sulit cari "tukang do'a" yang ikhlas? Ibarat punduk merindukan bulan, seolah harapan/impian kita selama ini sangat tidak mungkin alias mustahil bin mustahal bisa terwujud. Tentu kita akan berpikir kemudian, pasti ada yang salah...! Apakah pada diri kita? masyarakat kita? para pemimpin kita? atau pada negara kita? Mungkinkah negeri ini telah menjadi "Syurga yang terkutuk"...?

Saudaraku..., mari kita pikirkan sejenak. Mengapa kita tidak berpikir sebaliknya? Bahwa sang "Pahlawan Besar" itu adalah diri kita sendiri? Bahwa Tokoh besar yang akan menjadi penyelamat bangsa adalah diri kita sendiri...? Mengapa kita tidak berhenti berharap dan berharap, menunggu dan menunggu datangnya sang "Pahlawan Besar", lalu berusaha mewujudkan harapan seluruh bangsa ini dengan tangan kita sendiri...?


hal ini tentu akan membuat kita berpikir ribuan kali untuk menjawab pertanyaan "nyeleneh" itu. Bener nggak?

Mengapa kita selalu terjebak dengan sesuatu yang tidak pernah kita temui dalam realitas kehidupan ini ? Kita merasa lemah, kita merasa tidak mampu, kita terlalu sibuk dengan cari uang, pikiran kita terlalu sibuk untuk ngurusi diri sendiri...! Gimana mau ngurusi orang lain? ngurusi diri sendiri aja susah banget...!!!!

Bisa kita bayangkan, gimana susahnya cari kerja di negeri subur n kaya minyak ini... ckckckckck.... iya nggak prend...?????

Tapi..., pernahkah kita membayangkan orang-orang hebat dunia...? Nabiyullah SAW, Umar bin Al Khattab, Sholahuddin Al-Ayubi, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison....? Gimana kisah mereka menggoreskan sejarah menakjubkan di dunia? Kenapa mereka bisa sementara kita berpikir tidak bisa?


Waktu mereka dalam sehari 24 jam, kita juga 24 jam!
Mereka butuh makan, kita juga!
Tangan mereka dua, kita juga!
Kaki mereka empat? enggak tuh...!
Mereka punya jimat? enggak tuh! KiJokoBodo yang punya seabrek jimat aja nggak sanggup membendung inflasi di Indonesia ini...? (nggak level gitu loh...! plis deh...!)

Hmmm....pasti ada yang belum kita lakukan sebagaimana mereka lakukan pada dirinya.... Apa itu...?



(to be continued....)

all image support by: corbis.com

Monday, March 3, 2008

Horeeeeeee...nyumbang pengangguran baru...!

hmm...akhirnya kelar juga nih ujian. Ngerjain ampe hampir sesek napas, hehehe...tp it's ok, setelah semuanya kelar lumayan cukup bikin lega. Paling enggak, bisa bernafas barang 2-3 hari deh. Bisa ketawa-ketiwi bareng temen2. Apalagi kalo ada temen yang belon kelar2, wah ni sasaran empuk buat "bagi2" pengalaman....hehehe...! (jahat bener).

Lulus, menyenangkan?
Ternyata dipikir2, bagi kebanyakan orang lulus tuh nikmatnya cuma sesaat doank. Abis itu, pusing deh mikirin cari kerja. Apalagi sekarang tuntutan dunia kerja semakin selektif. Nggak ngasal nerima orang. Bahkan bisa gawat kalo kita nggak punya "kenalan" dari suatu perusahaan. Minimal satpam deh, hehehehehehe.......

Buat siapapun yang baru jadi sarjana, kayaknya perlu pikir panjang nih (terutama yang baru menyusun rancangan masa depannya). Soalnya sebagaimana pernah diterbitkan salah satu koran nasional (sori, lupa namanya, kalo gak salah republika). Bahwa jumlah pengangguran paling besar angkanya adalah pengangguran terdidik, yaitu sejumlah 70%-an. Waduw...!

(bersambung)....> sambil berkaca pada diri sendiri... :'(

Wednesday, June 6, 2007

Bab I Pendahuluan

sambil nyari inspirasi... baru segini yang gw garap...!

1.1. LATAR BELAKANG

Islam adalah diin yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya menjelaskan tata cara beribadah mahdhoh kepada Allah swt, namun Islam juga menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan, Keamanan, termasuk Ekonomi.

Sebagai sebuah ideologi, Islam membutuhkan sebuah institusi yang bisa menerapkan seluruh hukum tersebut. Institusi ini, menurut Syeikh Taqiyuddin An-nabhani disebut sebagai Daulah Khilafah Islamiyah. Sejarah mencatat, ketika Rasulullah meraih kekuasaan spiritual dan politik di Madinah, pada saat itulah sesungguhnya Rasul mendirikan sebuah institusi yang secara bertahap mulai memberlakukan hukum-hukum praktis tentang kehidupan warga Madinah pada saat itu.

Islam telah mengharuskan negara khilafah untuk menyelenggarakan pemeliharaan seluruh urusan ummat dan melaksanakan aspek administratif terhadap harta yang masuk ke negara, termasuk juga cara penggunaaannya, sehingga memungkinkan bagi negara untuk memelihara urusan ummat dan mengemban dakwah. Dalil-dalil syara telah menjelaskan sumber-sumber pendapatan harta negara, jenis-jenisnya, cara perolehannya, pihak-pihak yang berhak menerimanya serta pos-pos pembelanjaannya. (Zallum, Abdul Qadim. Sistem Keuangan di negara Khilafah, 2002, PTI). Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani dalam kitabnya An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam (1990) telah menjelaskan sumber-sumber pemasukan bagi Baitul Mal dan kaidah-kaidah pengelolaan hartanya. Sumber-sumber tetap bagi Baitul Mal menurutnya adalah: fai', ghanimah/anfal, kharaj, jizyah, pemasukan dari harta milik umum, pemasukan dari harta milik negara, usyuur, khumus dari rikaz, tambang, serta harta zakat (An Nabhani, 1990). Hanya saja, harta zakat diletakkan pada kas khusus Baitul Mal, dan tidak diberikan selain untuk delapan ashnaf (kelompok) yang telah disebutkan di dalam Al Qur'an. Tidak sedikit pun dari harta zakat tersebut boleh diberikan kepada selain delapan ashnaf tersebut, baik untuk urusan negara, maupun urusan umat. (Al-Jawi, Siddiq. Baitul Mal Tinjauan Historis dan Konsep Idealnya. www.khilafah1924.org) Ke delapan asnaf tersebut adalah fakir, miskin, amilin, muallaf, fii al-riqab, gharim, fii sabilillah, dan ibnu sabil (Q.S. Al-Taubah: 60).

Pasca keruntuhan Daulah Khilafah pada 1924, kekuatan politik ekonomi dunia terpolarisasi menjadi dua kekuatan besar. Ditandai dengan munculnya negara adidaya pengendali politik-ekonomi dunia yang baru. Amerika dan Inggris mewakili kekuatan ekonomi Kapitalis. Sementara ekonomi Sosialis-komunis diwakili oleh Uni Sovyet, Eropa Timur, dan China (Achmad Rizal Purnama, LSQ, Dipl. Economic, Menuju Sistem Ekonomi Islam. 2000). Pertarungan dua kekuatan ideologi ini membuat posisi negeri-negeri muslim hanya dijadikan objek imperialisme. Penjajahan ini, mengakibatkan kaum muslim tidak mempunyai kekuatan politik dan ekonomi untuk bangkit dari keterpurukan. Di samping itu, sistem ekonomi kapitalistik sebagai warisan para penjajah semakin memperparah kondisi perekonomian di negeri kaum muslim.

Berbagai macam solusi telah ditawarkan, sekularisasi dan libelarisasi sistem politik dan ekonomi menjadikan dunia Islam memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap negara-negara maju dan Bank Dunia (IMF). Sehingga mayoritas negeri muslim masuk dalam kategori dunia ketiga, yaitu kelompok negeri-negeri miskin. Ketimpangan antara negara-negara maju dengan dunia ketiga sangatlah ironis. Wilayah dunia yang diduduki oleh negara-negara maju sebesar 1/4 dunia, namun mereka menikmati 80% penghasilan dunia. Bahkan, 90% industri terdapat di negara-negara utara. Sungguh menyedihkan, kaum Muslimin di negeri-negeri Islam yang sebenarnya kaya-raya justru malah miskin, kualitas sumberdaya manusia relatif rendah, lemah, demikian pula kualitas kesehatannya. Salah satunya di Indonesia, sebagai salah satu negeri dengan jumlah kaum Muslimin terbesar di dunia. (Republika online, Zakat dan Sistem Ekonomi Islam, 26/11/2004) Maka dari itu, dibutuhkan sistem ekonomi alternatif yang mampu memecahkan persoalan ummat islam, khususnya di bidang ekonomi.

Mengenai sistem ekonomi alternatif ini Ismail Yusanto (Islam Ideologi, 1998, hlm. 198) menerangkan : "Suatu sistem yang berpihak kepada semua pelaku ekonomi, bahkan kepada semua orang. Yakni, suatu sistem yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada mekanisme pasar, tapi tetap memberikan peran pada pemerintah, kekuatan sosial dan hukum untuk melakukan intervensi dan koreksi demi menjamin agar pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh masyarakat banyak; juga suatu sistem yang menjamin kekuatan ekonomi tidak terkonsentrasi pada sekelompok kecil pengusaha, di samping mampu melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat banyak, serta memberikan kesejahteraan lahir batin secara hakiki. Sistem yang dimaksud adalah sistem ekonomi Islam.". Dalam system ekonomi islam, yang menjadi persoalan utama tidak stabilnya perekonomian dunia adalah karena tidak meratanya distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Fakta empirik menunjukkan, bahwa bukan karena tidak ada makanan yang membuat rakyat menderita kelaparan melainkan buruknya distribusi makanan (Ismail Yusanto. 2002:15-16). Mustafa E Nasution pun menjelaskan bahwa berbagai krisis yang melanda perekonomian dunia yang menyangkut sistem ekonomi kapitalis dewasa ini telah memperburuk tingkat kemiskinan serta pola pembagian pendapatan di dalam perekonomian negara-negara yang ada, lebih-lebih lagi keadaan perekonomian di negara-negara Islam.

Monday, March 19, 2007

diambang kehancuran perekonomian Indonesia


Satu-satunya negeri Muslim terbesar di dunia hanyalah Indonesia. Negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah ruah ini memaksa dunia untuk menjulukinya sebagai The Super Biodiversity State. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut (www.walhi.or.id, Hutan Indonesia Menjelang Kepunahan, 14 April 2004). Menurut buku World in Figure 2003, Penerbit The Economist,USA data kekayaan Indonesia adalah: Penghasil Biji-bijian terbesar no 6; Penghasil Teh terbesar no 6; Penghasil Kopi no 4; Penghasil Cokelat No 3; Penghasil Minyak Sawit (CPO) No 2; Penghasil Lada putih No 1. lada hitam No 2; Penghasil Puli dari buah Pala No 1; Penghasil Karet Alam No 2,Karet Sintetik No 4; Penghasil Kayu Lapis No 1; Penghasil ikan no 6; Penghasil Timah No 2; Penghasil Batu Bara No 9; Penghasil Tembaga No 3; Penghasil Minyak Bumi No 11; Penghasil Natural Gas No 6, LNG No 1; Penghasil Emas no 8 dan bahan tambang lainnya. (http://km.itb.ac.id, Arah Teknologi Kita, 26/06/2006).
Kekayaan alam itu, mestinya menjadi satu kebanggaan bagi bangsa yang berpenduduk 200 juta ini. Namun realitas ini seolah menjadi fatamorgana, ketika bangsa Indonesia hanya bisa “melongo” saat menyaksikan PT.Freeport sejak era Soeharto mengeruk kekayaan Indonesia di Papua. Menurut catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6.6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1.3 juta ton perak. Dari sumber data yang sama, produksi emas, tembaga, dan perak Freeport selama 11 tahun setara dengan 8 milyar US$. Sementara perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 dari lubang Grasberg setara dengan 1.5 milyar US$ (www.walhi.or.id. 06/04/04). Kita juga melihat spesialisasi bangsa Indonesia sebagai salah satu “sarang tikus” dunia, negeri ini selama bertahun-tahun menjadi Negara terkorup no.1 di Asia, walaupun data terbaru menunjukkan Indonesia berhasil meraih “prestasi” yang lumayan, data Political and Economic Risk Consultancy (PERC), melansir hasil survei mereka terhadap 13 negara di Asia, Selasa (13/3). Posisi Indonesia digeser oleh Filipina yang tahun ini memperoleh nilai 9,40 jauh lebih buruk dibanding tahun lalu (7,80 poin). Sementara poin Indonesia berkurang dari 8,16 poin (terburuk tahun 2006) menjadi 8,03 poin. (http://tribun-timur.com, RI Tak Lagi Negara Terkorup. 14-03-2007).
Berbagai usaha telah dilakukan oleh sejumlah elemen bangsa (termasuk pemerintah) untuk membangkitkan Indonesia dari keterpurukannya. Namun, nampaknya usaha itu seolah menjadi angin lalu yang belum atau bahkan sulit untuk mewujudkan impian seluruh masyarakat Indonesia, khususnya ummat Muslim. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi?
Akar Masalah
1) Problem Kepemilikan
Sistem Ekonomi Indonesia yang bercorak kapitalistik sudah mulai terasa sejak rezim Soeharto berkuasa. Pada saat itu, sejarah memang mencatat, bagaimana pertumbuhan ekonomi begitu pesat. Para analis pada saat itu mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang. Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5–10%, rupiah stabil dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang (www.wikipedia.org). Namun, pertumbuhan yang ditopang oleh utang luar negeri ini pada akhirnya mencapai bubble economic pada tahun 1998.
Semenjak corak perekonomian berubah arah menuju Kapitalistik, bahkan belakangan menjadi lebih liberal, sedikit demi sedikit berbagai asset negara dijual kepada asing dengan alasan memperbaiki kinerja dan penyelamatan APBN. Hal ini sangat nampak terutama saat Presiden Megawati memimpin negeri ini. Padahal, sudah jelas dalam UUD pasal 33 dijelaskan bahwa seluruh asset yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sebagai contoh, PT Freeport yang sudah mengangkangi tambang emas terbesar di dunia ini, telah bercokol di Indonesia sudah lebih dari setengah abad. Pemasukan yang diperoleh Freeport McMoran dari PT Freeport Indonesia, dan PT. Indocopper Investama (keduanya merupakan perusahaan yang beroperasi di Pegunungan Tengah Papua) mencapai 380 juta dollar (hampir 3.8 trilyun) lebih untuk tahun 2004 saja. (www.walhi.or.id) Selama 3 tahun hingga tahun 2004, total pengasihan PT. Freeport kepada Republik Indonesia hanya kurang lebih dari 10-13 % pendapatan bersih di luar pajak atau paling banyak sebesar 46 juta dollar (460 milyar rupiah) (idem). Belum lagi penguasaan blok cepu oleh Exxon Mobile, di mana Indonesia benar-benar dipermalukan dengan prosentase keuntungan untuk negeri ini sebesar 0% !
Padahal, berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia, Masyarakat Indonesia sebagian besar tidak setuju (69.7%) munculnya perusahaan asing yang mengelola kekeyaaan alam Indonesia. Hanya 9.7% yang setuju / sangat setuju. Alasan ketidaksetujuan, sebagian besar (32.2%) karena kekayaan alam itu berada di Indoensia sudah selayaknya kekayaan alam itu dikelola oleh perusahaan asal Indonesia.( www.lsi.co.id. 11/08/2006)
Bila saja seluruh asset ini benar-benar dikelola oleh negara, maka Insya Allah, biaya pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi sangat mungkin menjadi gratis, paling tidak murah.
Hal ini tentu terjadi, karena kesalahan dalam menempatkan kepemilikan.
2) Problem Distribusi kekayaan
Dalam sebuah artikel khusus harian Republika dilaporkan bahwa omset tahun 1993 dari 14 konglomerat Indonesia terbesar yang tergabung dalam grup Praselya Mulya, diantaranya Om Liem (Salim Group), Ciputra (Ciputra Group), Mochtar Riady (Lippo Group), Suhargo Gondokusumo (Dharmala Group), Eka Tjipta (Sinar Mas Group) mencapai 47,2 trilyun rupiah atau 83 % APBN Indonesia tahun itu (Purnawanjati,Siddiq. Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme). Ini menandakan, bahwa lebih dari 80 % perputaran uang di Indonesia, hanya berkutat pada segelintir orang saja. Sementara sisanya, terbagi ke seluruh wilayah di Indonesia dengan penduduknya sejumlah 200 juta jiwa. Maka wajar apabila kemiskinan semakin merajalela, memperbesar jurang antara si kaya dan si miskin.
3) Sistem Uang Kertas
Salah satu penyebab utama jatuhnya perekonomian Indonesia pada tahun 1997/1998 adalah, meningkatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah yang pada saat itu menembus angka Rp.8000 per Dollar. Akibatnya, impian Indonesia untuk menjadi Negara Industri Baru (NIB) pupus sudah. Indonesia bukan lagi menjadi negara miskin tetapi super miskin di bawah India dan setara dengan Kamboja, Kenya atau Bangladesh yang mempunyai pendapatan per kapita dibawah 300 dolar (Purnawanjati, Siddiq. Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme). Belum lagi dampak dari sistem uang yang fluktuatif ini yang akan menyebabkan inflasi, sehingga harga-harga melambung tinggi terutama untuk barang kebutuhan pokok, sebagaimana yang pernah melanda Indonesia pada tahun 1997/1998.
Khatimah
Dunia telah mengakui keunggulan Ekonomi Islam yang lahir 14 abad yang lalu. Sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menerapkan Sistem Ekonomi Islam di Indonesia ini, bahkan di dunia sebagai sistem ekonomi alternatif yang mampu menjawab semua problem ekonomi dunia. Sosialisme telah runtuh, tak mungkin bangkit kembali. Kapitalisme-Sekuler telah nyata kebobrokannya, tinggal menunggu waktu kapan ia akan hancur. Setelah dua ideologi di tersebut, tidak ada alternatif lain untuk menjawab persoalan negeri ini, selain Islam.
Wallahualam bi showab.
Daftar Pustaka
www.walhi.or.id, Hutan Indonesia Menjelang Kepunahan, 14 April 2004
www.km.itb.ac.id, Arah Teknologi Kita, 26/06/2006
http://tribun-timur.com, RI Tak Lagi Negara Terkorup. 14-03-2007
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Indonesia
www.lsi.co.id. 11/08/2006
Purnawanjati,Siddiq. Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme.
Husain Abdullah, Muhammad, 2002, Studi dasar-dasar Pemikiran Islam, Pustaka Thoriqul Izzah, Bogor, Cet I.

Sunday, February 18, 2007

Makziyat TelmiVision (mTv)


Gue banget…

MTv…?Siapa yang nggak kenal chanel musik dunia yang satu ini? Di jaman yang katanya udah nggak mengenal batas kayak gini, MTv sukses menghipnotis semua orang penggemar musik di seluruh dunia. Chenel berbau enter-“tai”-ment ini menyajikan menu2 harian yang hampir semuanya dibalut, dibasuh, diaduk-aduk, dll dengan musik. Bahkan yang lebih menegangkan lagi, MTv Indonesia nampaknya sedang berbaik hati terhadap pecinta musik goyang dombret alias dangdoet (MTv…Gue banget????), karena kalo MTv nggak melirik pecinta goyang dombret, mungkin besok2 mereka akan melakukan aksi demo dengan bergoyang ngebor ala Inoel Daranista sampe pemerintah mengabulkan permintaan mereka. Layaknya para aktivis demo dengan aksi mogok makannya, para pecinta pantat bergoyang ini akan terus beroyang sampe permintaan mereka dikabulkan!!! (MTv Gue Banget?????).

Khusus untuk di Indonesia, MTv udah masuk ke kancah musik di negeri serba bajakan ini mulai taon 1990-an. Waktu itu MTv disiarkan lewat channel ANTV sebagai bagian dari acara di stasiun TV swasta tersebut. Nah, anak nongkrong…, karena nggak betah nongol di ANTV, maka mulai taon 2003 chanel anak nongkrong sambil ngorong ini pindah ke ‘gebetan’ barunya yaitu Global TV yang ditayangkan 24 jam non stop wajib nongkrong!. Nah, setelah Global TV udah bisa mandiri dengan acara2nya pada akhir 2004, MTv Indonesia akhirnya ditayangkan cuma 12 jam sehari di stasiun tv swasta tersebut.

“Antum a’lamu bi umuuriddunyakum…” ya...ente lebih mengetahui urusan duniamu. Kalian yang ngaku2 anak nongkrong pasti udah pada ngelotok donk acara2 MTv kayak apa, dari mulai lagu2 lokal ampe mancanegara yang penyanyinya masih pake koteka kayak suku pedalaman di lembah2 terpencil, iiiiyyyyy…!!! Jijay! Sampe ada pernyataan saudara2 kita dari papua yang sudah memeluk Islam, “Kami di sini sudah terbiasa telanjang dan sekarang memakai jilbab, kasihan orang Jakarta malah belajar telanjang!”Hayo…?! Orang-orang yang dulunya pake koteka aja belajar untuk pake baju, kenapa orang-orang “modern” malah kembali belajar menggunakan koteka dan meninggalkan baju? (Tanya kenapa?). Ya, mulai saat ini juga ente2 semua harus mulai belajar mikirin dunia di sekitarmu. Why? Capek2 mikirin orang lain yang kagak mikirin kita? Justru itulah entry point-nya men! Di dunia saat ini udah berkembang virus yang melupakan yang namanya ”fitrah” dia diciptakan ke dunia ini. Manusia modern sekarang udah cenderung berwatak ”semau gue” daripada ”semau Tuhannya gue”. Hidup udah nggak mau diatur, pengennya bebas, bebas macarin cewek, bebas melakukan seks, bebas ngomong, bebas berbuat, dan bebas beribadah. Mao solat apa enggak itu urusan gue, gue sendiri yang masuk neraka kenapa lo yang ribut? Wadaw???

”Loh, itu kan wajar donk? Sekarang kan jaman modern, setiap orang punya hak asasi manusia? Hak Asasi Gitu loooh...!” Oke, kalo itu pendapat lo semua, sekarang gue bebas donk macarin adek or kakak lo, trus gue bebas melakukan apa aja sama sodara kandung lo itu. Gue mau cium, mau megang, mau nonjok, mau menghamili, trus udah gitu gue tinggalin deh Adek or kakak lo. Itu kan Hak Asasi gue untuk mendapatkan kesenangan. Selama Adek or Kakak lo suka, kan itu bukan pelanggaran to? Na’udzubillah...coba deh lo pikirin seandainya itu bener2 terjadi sama adek or kakak lo sendiri. Kebayang nggak sih kalo misalnya itu juga teralami oleh ibu kandung kita? Kalo misalnya kita tanya, ”Mama, dulu pernah pacaran ya?” Trus mama menjawab”Ooo, iya donk...Mama kan dulu jadi kejaran laki-laki di sekolah, trus mama gonta-ganti pacaran loh...! keren nggak sih? Sampe yang terakhir mama pacarin itu ganteng banget! Tapi akhirnya putus, trus jadi deh sama Papa kamu...yah kira-kira udah tujuh lelaki yang Mama pacarin”. GLODAKSsssss....!!!!!! Eh, prend, coba lo bayangin kalo itu bener-bener terjadi! Malu banget donk punya Mama yang udah dipacarin 7 lelaki. Mau ditaro di mana muka kita? Di pantat? Trus sekarang apa kita nggak berpikir kedepan bahwa setiap cewek yang kita pacarin juga akan punya suami dan berkeluarga, dan suaminya itu belum tentu kita? Kalo gitu apakah kita masih mempertahankan “ideologi semau gue”?

Prend, sadarkah kita bahwa melalui MTV itulah ide-ide kebebasan di “dakwahkan” ke kita semua. Apa yang dijelaskan di atas hanyalah salah satu contoh kecil. Masih ada segudang contoh lagi yang nggak mungkin dijelasin satu-satu di sini. Udah nggak cukup lagi waktu untuk mengungkapkan semua kebobrokan aturan yang udah berkarat yang masih dipake negara kita. Mungkin masih nempel di otak kita gimana guru PPKN di sekolah menjelaskan bahwa Pancasila sebagai “penyaring” semua yang masuk dari negara lain. Tapi nyatanya, ide-ide kebebasan itu tetep bisa masuk dengan bebas, nyatanya majalah porno PlayBoy bisa masuk dengan mulus ke negara kita yang bermartabat ini? Nyatanya goyang ngebor masih diperbolehkan bergoyang bebas di seantero nusantara? Kenapa kok nggak bisa sementara mata pelajaran itu kita pelajari dari SD sampe SMA? Jawabannya gampang, karena Pancasila bukan sebuah ideologi, itu hanyalah sebuah falsafah hidup atau cita-cita para pendiri bangsa kita dulu, yang nggak mungkin bisa terwujud tanpa adanya sebuah sistem hidup yang ”perfect”.

Jangan jadi pengikut setan!

Mari kita renungkan sejenak firman Allah swt berikut yang artinya:

”Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian. (TQS. Al-Maidah [5]:3)

Prend, mestinya kita pahami ayat tersebut sebagai sebuah pemberitahuan kepada kita, bahwa Islam telah sempurna dan tidak ada satu kekuranganpun di dalamnya dalam segala hal. Baik itu dalam hal ibadah, maupun dalam hal aturan dan petunjuk Allah SWT bagi kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Maksudnya, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, berhubungan dengan lawan jenis, mencegah tindakan kriminal dan hukumannya bagi yang melanggar, sampe bagaimana para penguasa mengatur rakyatnya, itu semua udah ada di dalam Islam dan kita tinggal melaksanakannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rosul kita yaitu Rasulullah SAW. Gampang kan?

Setiap orang yang mau berubah pasti mengalami kesulitan, dan jangan pikir Cuma kamu aja yang mengalami itu. Kamu mesti paham bahwa orang paling sukses sekalipun pasti mengalami hal yang sama ketika dia ingin melakukan perubahan dalam dirinya. Hanya satu yang mesti ada dalam diri kita, yaitu sungguh-sungguh dan konsisten. Jangan jadi orang plin-plan alias nggak punya pendirian bin culun dalam menghadapi hidup. Buktiin donk kalo kamu punya nyali untuk mengatakan ”No Makziyat!” Oke prend?!